Jumat, 25 Maret 2022

Stok Minyak Goreng di Jawa Tengah Melimpah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo; Turunkan Harganya

SHARE

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Mentri dan Kepala Daerah saat berada di Denpasar Bali.Foto: Sindikasi Media/Humas Provinsi Jateng


Sindikasi Media, Bali- Menjelang datangnya bulan ramadhan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendorong pemerintah segera menurunkan harga minyak goreng khususnya minyak curah.

Meski stok minyak goreng saat ini telah melimpah dan mudah dicari di pasatan, Gubenur Jawa Tengah menyayangkan harganya masih terlalu tinggi untuk daya beli masyarakat.

Perhatian Gubernur Jawa Tenga terhadap masih tingginya minyak goreng, diungkapkan saat berada di sela-sela pertemuan kepala daerah di Bali

Dalam rilisnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengingatkan adanya sentilan yang diucapkannya beberapa lalu merupakan suara dari masyarakat yang sudah gemas dengan kondisi susahnya mencari minyak goreng (migor).

“Kalau kita hitung ya sejak Desember kita mulai operasi pasar, ini sudah bulan Maret mau masuk April sebenarnya ini waktu yang sangat lama untuk sebuah negara yang memproduksi minyak goreng terbesar di dunia,” ungkap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Kebijakan mencabut Harga Eceran Tertinggi (HET), menurut Gubernur Jateng, memang membuat stok minyak goreng kini melimpah.

Tapi kondisi ketersediaan migor kemasan di toko dan swalayan tidak berlaku untuk minyak goreng curah.

Bahkan di Jawa Tengah, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyebut stok minyak goreng curah hampir tidak ada.

Ganjar sempat berkomunikasi dengan sejumlah menteri terkait saat bertemu di acara bersama Presiden Jumat 25 Maret 2022.

Gubernur Jateng mendorong agar distribusi minyak goreng curah seharga Rp 14ribu per kilogram dimudahkan.

“Kalau setelah sekarang melimpah dengan kebijakan yang HET dicabut, serta merta saat itu migor melimpah tapi mahal,” ungkap Gubernur Ganjar Pranowo.

“Nah pertanyaannya harga rendah untuk masyarakat yang level bawah itu mana,” tegasnya.

Ganjar membeberkan, di Jateng saat ini stok minyak goreng kemasan dengan harga Rp 23.000 /liter ada sebanyak 575.064 liter. Kondisi itu surplus dengan kebutuhan yang tercatat sebanyak 458.064 liter.

Kondisi ini berbeda dengan minyak goreng curah. Ganjar mengatakan, hampir di tiap kabupaten kota kosong.

“Kami sedang upayakan ini untuk mencari terobosan-terobosan dan insyaallah nanti melalui BUMN kita akan dapat di tanggal 3-4 april akan datang di (Pelabuhan) Tanjung Emas kurang lebih 3ribu ton minyak curah. Tapi ini kan lama,” kata Ganjar.

Sementara untuk menuju ke sana, masyarakat mau tidak mau harus membeli minyak goreng kemasan yang harganya masih tinggi.

“Jangka pendeknya akhirnya mereka harus beli yang 23ribu. Itu jangka pendeknya, itulah keluhan yang muncul kepada kami,” katanya.

Di sisi lain, Ganjar mencermati sejumlah aturan yang dinilai akan memperlambat distribusi minyak curah. Sebab dalam aturan tersebut, pelaku usaha diwajibkan mendaftar dan mengikuti sejumlah syarat untuk mendapat minyak goreng curah.

“Ini jadi panjang. Maka ini saya teruskan ke Menperin agar dipangkas lebih cepat. Memang harus dikontrol, tapi bagaimana lebih cepat,” ucapnya.

Ganjar juga kembali menegaskan, agar kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) 20 persen diawasi dan dikendalikan. Perusahaan, kata Ganjar, mesti diajak untuk bertanggungjawab atas pelaksanaan DMO tersebut.

“Kalau itu bisa dilakukan kita tidak akan kucing-kucingan dan kita bisa tanggung jawab bersama dan kita bisa duduk dengan perusahaan atau industri migor ini,” tandasnya.***

SHARE

Author: verified_user

0 comments: