Jumat, 25 Maret 2022

Bercermin dari Sosok Wayang Parikesit, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Harap Pandemi Segera Usai -

SHARE

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin dalam pembukaan pagelaran wayang kulit dalam rangka HUT Theater Lingkar Semarang.Foto: Sindikasi Media/Humas Provinsi Jateng


Sindikasi Media, Semarang- Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen ungkapkan Parikesit sebagai tokoh pewayangan diharapkan menjadi simbol kesejahteraan bagi Indonesia setelah mengalami dua tahun dilanda pandemi Covid.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengungkap simbol tokoh wayang Parikesit merupakan cucu tokoh Pandawa, Arjuna.

Keluarnya dari prahara pendemi Covid, ungkap Gus Yasin, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Parikesit merupakan sosok raja yang lahir setelah perang Bharatayudha.

Perang Bharatayudha, ungkap Wagub Jawa Tengah adalah permasalahan serius yang sama yang dialami dimasa bangsa Indonesia berhadapan dengan Pendemi Covid.

Ungkapan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen saat hendak menyerahkan wayang Parikesit kepada dalang muda Ki Sindhunata Gesit Widiharto di pagelaran Wayang Malam Jumat Kliwon, dalam rangka HUT ke-42 Teater Lingkar Semarang di auditorium RRI Semarang.

Bagi Gus Yasin, perang antara Pandawa dan Kurawa itu merupakan gambaran kondisi pandemi Covid-19 yang berdampak sangat besar bagi Indonesia.

"Parikesit adalah lambing,” ungkap Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin.

“Ini pas ya, Parikesit ini adalah simbol dari raja yang lahir setelah ada peperangan Bharatayudha, yang diistilahkan sebagai perang yang kacau balau,” imbuh Wagub Jateng.

“Kemarin, kita setelah perang dengan Covid-19 sekarang muncul Parikesit. Dan Insyaallah ini lambang menunjukkan bahwa akan muncul kesejahteraan setelah pandemi Covid-19. Saya berikan ke mas Dalang," kata Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, dalam rilisnya, Jumat 25 Maret 2022.

Dalam sambutannya, Wagub Jateng Taj Yasin menyebutkan kebudayaan nenek moyang yang sarat dengan nilai dan pesan moral harus dilestarikan oleh generasi muda.

Dengan kepedulian generasi muda, harap Wakil Gubernur Jawa Tengah, budaya wayang kulit tidak terkikis dan hilang akibat tergerus dengan budaya luar negeri.

Menurut Wagub Taj Yasin, upaya yang telah dilakukan oleh Teater Lingkar Semarang patut mendapatkan apresiasi. Sebab, dalam catatannya, Teater Lingkar sudah 28 tahun menggelar pertunjukkan Wayang Kulit di Kota Semarang.

Bukan hanya itu, Wagub Jateng juga merasa senang dapat menyaksikan pertunjukkan Karawitan yang dilakukan oleh anak-anak.

Bagi Wakil Gubernur Jawa Tengah, hal itu merupakan upaya yang tidak mudah, karena mampu mengajak anak-anak mencintai kesenian dan kebudayaan yang ada di Indonesia, di saat banyak warga negara lain juga turut mempelajarinya.

"Saya lihat, Karawitan yang diasuh Teater Lingkar yang sudah berusia 40 (tahun lebih), sudah menemukan bakat-bakat (anak) yang baru dilatih seminggu, dan sudah terlihat (bakatnya),” tambah Wakil Gubernur.

“Artinya ini adalah hadiah yang harus kita syukuri dari Tuhan, bawha budaya Jawa itu tidak habis. Budaya ini masih ada yang meneruskan," tambah Gus Yasin.

Untuk terus melestarikan kebudayaan nenek moyang, Taj Yasin menyebut perlu ada peran bersama dari seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, upaya gotong royong harus selalu ditegakkan agar kesenian tradisi yang bernilai tinggi di mata dunia tidak pudar.

Wakil Gubernur Jateng mengingatkan presiden pertama Indonesia pernah menyerukan ungkapan "Bis Holobis Kuntul Baris".

Bagi Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, ungkapan Presiden pertama Indonesia ir Soekarno tersebut sangat kental dengan ajakan bagi masyarakat untuk gotong royong.

"Ada tokoh besar di Indonesia yang pernah menggunakan ungkapan ini untuk mengusir penjajah, itu Bung Karno,” imbuh Gus Yasin.

“Dulu waktu Indonesia masih terpisah-pisah, susah untuk melawan penjajah. Ketika Bung Karno menyebut Holobis Kuntul Baris, (masyarakat) sadar, sudah saatnya guyub rukun," papar Wagub Jateng.

Lebih jauh, Taj Yasin berpesan kepada Teater Lingkar supaya menjadi kelompok yang dewasa. Menurutnya usia 42 tahun adalah usia matang dalam membawa diri dan sikap. Sehingga, dengan kematangan tersebut, Teater Lingkar makin mantap melangkah dan terus semangat melestarikan kesenian dan kebudayaan leluhur.Fwp/Sindikasi Media

SHARE

Author: verified_user

0 comments: