Jumat, 18 Februari 2022

Nikmatnya Sarapan Lontong Kikil Indraprasta

SHARE

Lontong kikil Indraprasta dengan pelengkapnya.
Foto: PTJ/Sindikasi Media

Sindikasi Media, Semarang Kota
- Meski baru dibuka, saya terhitung terlambat menjadi pembeli pertama di Lontong Kikil Indraprasta. 

Dibuka hari ini, Jumat, 18 Februari 2022, warung ini sudah dikunjungi para pembelinya. Ada yang sengaja sarapan atau sarapan mindho (makan diantara sarapan dan makan siang).


Begitu saya tiba di warung yang terletak di Jalan Indraprasta 103 ini, Jati, pemilik usaha kuliner ini menyambut saya dengan senyum lebar. "Monggo, Om. Mau komplit atau soto kikil saja?", sapa Jati.

Saya memilih yang komplit karena saya pengin tahu rasa satu persatu komponen di dalamnya.

Terlihat bersih dan tertata rapi, warung yang menghadap jalan satu arah ini menata meja kursi sedemikian hingga cocok buat ngobrol.

Tak perlu lama menunggu, pesanan saya pun datang lengkap dengan teh panas tawar. Kebetulan saya tidak begitu suka dengan manis. "Mungkin karena saya sudah manis, Mas", kata saya saat Jati bertanya kenapa tidak memilih teh manis.


Soto kikil yang di hadapan saya jauh dari bayangan saya ternyata menu ini sama sekali tidak kileng-kileng oleh lemak. Saya jadi nggak khawatir menyantapnya.

Saya mulai dari kuahnya. Rasanya mlekoh tapi tidak bikin neg. Versi orisinil tanpa tambahan pelengkap sudah menggoyang lidah saya. Gurih dan terasa kaldunya.

Lontongnya sempurna sehingga saat bertemu di rongga mulut saling melengkapi kebutuhan rasa dan sumber tenaga.

Kemudian saya menambahkan kecap, jeruk dan sambal. Rasanya makin membuncah membuat jiwa kulineris saya seperti saat mendengar lagu "Bukan Tak Mampu"-nya Mirnawati.

Saya tidak menambahkan garam atau penyedap rasa karena menurut saya sudah pas, ora susuk (tidak perlu kembalian; istilah gaul untuk menyatakan tepat sempurna).

Nikmat dan maregi (Jawa: bikin kenyang). Tapi saya tergoda dengan sate jeroan dan telur puyuh serta tempe gorengnya yang garing.

"Mas, minta kopi ada?", tanya saya ke pramusaji.

"Oh, ada. Sebentar, ya", katanya.

Di meja sebelah saya nampak dua orang pemuda yang kemudian ikut pesan kopi seperti saya.

"Cocok buat nongkrong nih", kata pemuda itu yang kemudian saya tahu namanya Rofik setelah berkenalan.

"Saya suka rasanya. Cuma sebetulnya saya pengin sama nasi tapi karena namanya Lontong Kikil jadi saya coba lontong," ujar Rofik yang mengaku dari Demak.

Di daftar menu saya melihat ada tulisan nasi putih tersendiri. "Waduh, saya nggak lihat menunya tadi," tukas Rofik menjelaskan.

"Besok saya tak pesan versi nasinya, Mas. Kebetulan jika hari kerja saya sering lewat sini", katanya mengakhiri obrolan.

"Harganya gaul, Mas. Saya dapat diskon 30 persen!", ujarnya sambil berpamitan. (PTJ/Sindikasi Media)

SHARE

Author: verified_user

0 comments: